BAHAYA PERKEBUNAN BIOFUEL TERHADAP HUTAN HUJAN : BANTU PERUBAHAN IKLIM

Posted on January 10, 2009. Filed under: Global Warming, Lingkungan, Penyebab, Pertanian | Tags: , |

BAHAYA PERKEBUNAN BIOFUEL TERHADAP HUTAN HUJAN : BANTU PERUBAHAN IKLIM

==================================================

perkebunan biofuelDikutip dari ScienceDaily, 1 Des 2008 – Mempertahankan hutan hujan tropis seperti keadaan aslinya adalah cara yang lebih baik dalam melawan perubahan iklim daripada mengkonversinya menjadi perkebunan biofuel, demikian hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal Konservasi Biologi.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perlu waktu paling sedikit 75 tahun untuk mengkompensasikan hilangnya karbon dari alih-fungsi hutan. Dan bila habitat aslinya adalah tanah gambut yang kaya karbon, maka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan keseimbangan karbon adalah lebih dari 600 tahun. Di sisi lain, perkebunan biofuel di atas lahan padang rumput yang mengalami degradasi, alih-alih pada hutan hujan tropis, akan membuang karbon hanya dalam waktu 10 tahun.

Penelitian ini merupakan analisa yang paling komprehensif mengenai dampak perkebunan minyak kelapa sawit di hutan tropis pada iklim dan biodiversitas. Penelitian ini dilakukan oleh sekelompok tim peneliti internasional yang terdiri dari ahli botani, ahli lingkungan, dan ahli teknik dari tujuh negara.

“Analisa kami menemukan bahwa akan diperlukan waktu selama 75 hingga 93 tahun untuk mulai merasakan pengaruh baik terhadap iklim dari perkebunan biofuel pada lahan hutan yang dialihfungsikan,” ucap kepala peneliti Finn Danielsen dari Dinas Nordik Pengembangan dan Ekologi Denmark (NORDECO). “Sebelum itu, kita akan melepaskan karbon ke dalam atmosfer dengan menebang hutan hujan tropis, selain hilangnya tanaman dan spesies satwa yang bernilai. Hal ini bahkan akan menjadi lebih buruk lagi di tanah gambut, di mana tempat itu mengandung begitu banyak karbon, sehingga kita baru mulai merasakan manfaatnya setelah 600 tahun kemudian.”

Biofuel telah menjadi sesuatu yang memikat sebagai alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil, salah satu penyumbang utama pemanasan global. Satu perkebunan minyak kelapa sawit, atau biofuel, menutupi berjuta-juta akre lahan di Asia Tenggara, di mana perkebunan semacam ini telah secara langsung atau tidak mengalihfungsikan hutan hujan tropis, dan berakibat pada hilangnya habitat bagi spesies seperti badak dan orang utan serta lenyapnya karbon yang disimpan di dalam pohon-pohon dan tanah-tanah gambut.

“Biofuel merupakan pilihan yang buruk bagi hutan, satwa, dan iklim bila mereka mengalihfungsikan hutan hujan,” ujar wakil peneliti Dr. Neil Burgess dari World Wildlife Fund. “Pada kenyataannya, biofuel mempercepat perubahan iklim dengan menghilangkan salah satu alat penyimpan karbon yang paling efektif di dunia – hutan hujan tropis.”

Para peneliti menyerukan pengembangan standar global bersama dalam produksi biofuel yang berkelanjutan.

“Subsidi untuk membeli biofuel tropis diberikan oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang seharusnya mengurangi emisi gas rumah kaca mereka dari transportasi,” kata Danielsen. “Sementara negara-negara ini berjuang untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap satu perjanjian internasional, Protokol Kyoto, negara-negara itu mendorong yang lainnya untuk meningkatkan emisi mereka sekaligus melanggar kewajiban mereka sendiri terhadap perjanjian lainnya, yaitu Konvensi Keberagaman Biologis.”

“Perbandingan antara flora hutan hujan dengan flora pada perkebunan minyak kelapa sawit menunjukkan dampak alih fungsi hutan yang merusak terhadap biodiversitas. Kelompok tanaman besar yang tumbuh subur di hutan hujan alami, seperti pohon-pohon, tumbuhan merambat liana, anggrek, dan kelapa sawit asli, tidak ada. Tanaman-tanaman yang menjamur di dalam perkebunan kebanyakan adalah spesies pakis yang menyukai matahari. Tanaman hutan memerlukan keteduhan dan habitat yang tidak diganggu untuk bertahan hidup,” ungkap ahli botani Hendrien Beukema dari Universitas Groningen di Belanda.

Sementara untuk faunanya, hanya satu dari enam spesies hutan yang dapat bertahan hidup dalam perkebunan, temuan penelitian itu. Sebagian besar dari ini adalah spesies biasa dan tersebar luas.

“Melestarikan hutan yang ada tidak hanya baik bagi iklim karena emisi gas rumah kaca dapat dikurangi, tetapi juga memberikan keuntungan tambahan, seperti perlindungan biodiversitas,” imbuh Dr. Daniel Murdiyarso dari Pusat Kehutanan Internasional yang berbasis di Indonesia (CIFOR). “Hutan tropis mengandung lebih dari separuh spesies darat Bumi dan hutan Asia Tenggara paling kaya spesiesnya. Hutan tropis juga menyimpan sekitar 46 persen karbon tanah dunia dan 25 persen total net emisi karbon dunia dapat berasal dari pembabatan hutan.”

Ini merupakan kontradiksi yang besar untuk membabat habis hutan hujan tropis untuk menanam palawija untuk bahan bakar yang dianggap ‘ramah lingkungan’,” lanjut Faizal Farish dari Pusat Lingkungan Global, Malaysia. “Hal ini bukan cuma menjadi masalah di Asia Tenggara – hutan di Amerika Latin juga dibabat untuk produksi kacang kedelai yang bahkan kurang efisien dalam produksi biofuel bila dibandingkan dengan minyak kelapa sawit. Mengurangi pembabatan hutan merupakan cara yang jauh lebih efektif bagi negara-negara untuk mengurangi perubahan iklim sekaligus juga memenuhi kewajiban mereka untuk melindungi biodiversitas.”

“Perkebunan biofuel apapun dalam wilayah hutan tropis harus dipertimbangkan hanya di lahan bekas hutan yang telah mengalami degradasi parah yang hanya dapat mendukung vegetasi rerumputan,” tambah Fariz. “Kepedulian sangat dibutuhkan untuk mencegah perkebunan semacam ini menstimulasi degradasi hutan lebih lanjut di area-area yang berdekatan dengannya.”

============================================

BAHAYA PERKEBUNAN BIOFUEL TERHADAP HUTAN HUJAN : BANTU PERUBAHAN IKLIM

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

3 Responses to “BAHAYA PERKEBUNAN BIOFUEL TERHADAP HUTAN HUJAN : BANTU PERUBAHAN IKLIM”

RSS Feed for Firmansyah’s Weblog Comments RSS Feed

Great post… Thanks for share😀

PERTANIAN ISLAMI
Masalah pertanian adalah masalah yang penting, karena menyangkut kebutuhan biologis manusia yakni masalah pangan. Yang namanya kebutuhan biologis itu tidak dapat ditunda. Penundaan terhadap kebutuhan ini dalam batas tertentu dapat menyebabkan bahaya bagi manusia. Fakta fakta di masa kini menunjukkan bahwa banyak manusia dinegara negara berkembang yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Hal ini lebih disebabkan oleh kesalahan manusia untuk menerapkan sistem untuk mengurusi urusan mereka, yakni sistem Kapitalis. Berikut ini beberapa fakta yang menunjukkan akibat dari penerapan sistem Kapitalis;

[1] Badan PBB Program Pangan Dunia (WFP), Selasa (3/12), mengimbau bantuan dana dalam jumlah besar untuk menyelamatkan 38 juta rakyat Afrika dari bencana kelaparan [Sinar Harapan, Rabu, 4 Desember 2002]

[2] Mboweni kembali meningatkan lembaga keuangan ini untuk segera menyiapkan bantuan terhadap negara-negara Afrika, termasuk Angola, Botswana, Ethiopia, Kenya, Nigeria dan Tanzania. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara gurun Afrika ini pertumbuhannya semakin melambat tahun ini dan kelaparan semakin meluas. [TEMPO Interaktif, Minggu, 12 Oktober 2008]

[3] Direktur Program Pangan Dunia (United Nations World Food Programme ) Indonesia, Bradley Bussetto mengatakan saat ini lebih dari 850 juta orang di dunia menderita kelaparan kronis, 820 juta diantaranya tinggal di negara berkembang. “Setiap 5 detik, 1 orang meninggal dunia akibat kelaparan di Asia,” katanya dalam jumpa pers Fight Hunger: Walk the World, di Wisma BCA, Jakarta, Rabu. Ia menambahkan, sekitar 50 persen dari total penderita kelaparan kronis tersebut adalah anak-anak. Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2006 menyebutkan, 350 hingga 450 juta anak menderita kelaparan kronis di dunia, 13 juta diantaranya adalah anak Indonesia. “Kelaparan atau kurang gizi merupakan penyebab utama kematian di dunia, melebihi AIDS, Malaria, dan TBC,” katanya. [TEMPO Interaktif, Rabu, 09 Mei 2007]

[4] Terkejut tentunya kita mendengar laporan adanya ancaman kelaparan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Musim kemarau yang tiba lebih awal di daerah itu membuat tanaman pangan milik penduduk tidak tumbuh dengan baik dan bahkan mengalami puso karena kekeringan. Masyarakat di Kabupaten Lembata tidaklah sendirian. Kondisi yang sama dihadapi masyarakat yang tinggal di delapan kabupaten lain di NTT, bahkan mungkin kelak terjadi pula di daerah-daerah lain pelosok Indonesia. [OSDIR / Mail Archive, Kamis, 17-03-’05]

Demikianlah sebagian kecil fakta dari dampak buruk Kapitalisme terhadap ketahanan pengan. Jadi akar masalah penyebab kelaparan adalah Sistem Kapitalisme yang diterapkan secara global. Dalam Sistem Kapitalis, permasalahan pangan dianggap selesai apabila stok pangan sudah mencukupi, namun masalah distribusi pengan, dapat dipikirkan kemudian. Padahal jumlah stok pangan seluruh dunia ini sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan global. Ini menunjukkan bahwa distribusi pangan dunia sedang tidak beres.

Eksploitasi sumber energi di negara negara berkembang, menyebabkan krisis energi. Yang menikmati eksploitasi ini tentu saja negara maju, sedangkan negara berkembang hanya puas mendapatkan keuntungan dari pajak saja. Ini berarti ada penjajahan global yang diterapkan di negeri Negeri Muslim. Untuk mengatasi krisis energi, penguasa negeri Negeri Muslim lantas mengambil keijakan yang salah, yakni mengkonversi lahan pertanian untuk kebutuhan bio energi. Artinya, ada lahan yang potensial untuk digunakan dalam sektor pertanian, namun di alih fungsikan untuk membuat bahan bakar dari tumbuhan.
“Berbicara tentang keprihatinan PBB bahwa bahan bakar bio dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan karena pengalihan makanan.” [http://www.huffingtonpost.com/bruce-friedrich/taking-the-food-crisis-pe_b_107992.html]

Konfersi lahan pertanian ini juga dapat ditujukan untuk mengalih fungsikan lahan pertanian untuk kebutuhan manusia menjadi lahan pertanian untuk hanya memenuhi pangan hewan ternak. Padahal hasil pertanian ini jika didistribusikan secara langsung kepada manusia, diharapkan dapat mengurangi kelaparan.
Juergen Foss, Die Tierfreunde (Friends of the Animals), mengatakan :
”Untuk hanya satu kilogram daging, kita menggunakan sekitar delapan kilogram tanaman pangan guna memberi makan hewan untuk memproduksi daging. Saat ini, tamanan pangan yang ditanam di banyak negara diekspor sebagai pakan ternak daripada langsung dimakan oleh orang. Permintaan yang tinggi untuk biji-bijian impor juga telah menyebabkan harga makanan pokok naik.”

Jeannine, Tierversuchsgegner Aachen, Group Against Animal Testing, mengatakan :
Semuanya sangat berkaitan hanya karena banyak bahan pangan yang terbuang dan digunakan untuk pakan ternak, padahal orang bisa mengonsumsinya
secara langsung. Banyak sumber energi yang juga terbuang, seperti energi air atau listrik. Pembicaraan apapun mengenai produksi daging akhirnya kembali lagi ke masalah bebannya terhadap perubahan iklim.

Politik Pertanian Islam.
Untuk memperbaiki sistem pertanian ini, diperlukan peranan pemerintah untuk menerapkan sistem pertanian yang islami. Penguasa adalah pelindung umat. Pelindung dari gangguan eksternal maupun pelindung dari masalah internal negara. Penguasa bertanggung jawab untuk menerapkan hukum hukum Allah serta membuat kebijakan untuk mensejahterakan umat. Penguasa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya menggunakan kekuasaan yang diamanahkan. Nabi muhammad bersabda (yang artinya):

”kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan iyu adalah penyesalan pada hari kiamat; nikmat di awal dan pahit di ujung.” [HR Al Bukhari]

”siapa saja yang diberi oleh Allah kekuasaan untuk mengurus urusan kaum muslim, kemudian tidak melayani mereka dan memenuhi kebutuhan mereka, Allah pasti tidak melayani dan memenuhi kebutuhannya.” [HR Dawud]

Diperlukan solusi untuk memperbaiki kondisi pangan dunia yang memang rusak / kacau. Solusi itu harus berasal dari Dzat Yang Maha Mengatur manusia. Solusi ini mustahil salah dan sejarah telah mencatat bahwa penerapan solusi ini dapat memberikan kesejahteraan di Dunia Islam. Itulah Politik Pertanian Islam. Langkah langkah nya adalah sebagai berikut;

[1] Melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta kebijakan kebijakan yang mendukung terpenuhinya kebutuhan pokok.

[2] Mendorong sektor riil dalam industeri pertanian.

[3] Untuk meningkatkan perdagangan hasil pertanian, negara harus membuat kebijakan agar mekanisme pasar berjalan transparan.

Intensifikasi pertanian yaitu mengupayakan agar produktifitas hasil pertanian dapat dimaksimalkan. Caranya adalah dengan mengajarkan teknik teknik pertanian modern, memberikan modal bagi petani yang mau dan mampu untuk melakukan aktifitas pertanian. Pemberian bibit secara cuma cuma juga termasuk upaya intensifikasi pertanian.

Ekstensifikasi pertanian adalah usaha untuk memperluas lahan pertanian, dilakukan dengan cara menghidupkan tanah mati. Negara harus memberikan tanah secara cuma cuma kepada mereka yang mau dan mampu untuk bertani. Apabila ada tanah yang tidak dimanfaatkan selama lebih dari 3 tahun, maka negara harus mengambil tanah tersebut dan diberikan kepada para petani.
Nabi Muhammad bersabda; (yang artinya)
“Siapa saja yang telah mengelola sebidang tanah, yang bukan menjadi hak orang lain, maka dialah yang lebih berhak.” (HR. Imam Bukhari dari Aisyah)
“Siapa saja yang telah memagari sebidang tanah dengan pagar, maka tanah itu adalah miliknya.” (HR. Abu Daud)
“Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati, maka tanah itu adalah hak miliknya.” (HR. Imam Bukhari)
Negara juga tidak boleh mengkonversi lahan pertanian menjadi perumahan dan untuk kebutuhan Bio Energi.

Kebijakan kebijakan yang mendukung terpenuhinya kebutuhan pokok antara lain: [a] Meningkatkan produksi hasil pertanian. Ini diperlukan karena pertambahan jumlah penduduk membutuhkan pemenuhan untuk kebutuhan pangan, terutama apabila Dunia Islam sedang mengalami embargo ekonomi dari negara penjajah akibat perang dan jihad yang dilakukan. [b] Meningkatkan produksi pertanian untuk pemenuhan kebutuhan pakaian (sandang). Ini adalah kebutuhan primer. Kebutuhan sandang mutlak diperlukan agar umat terhindar dari bahaya telanjang. Kebijakan ini diperlukan terutama jika Dunia Islam mengalami embargo ekonomi. [c] Mendorong produksi pertanian yang dapat digunakan untuk menembus pasar luar negeri, seperti buah buahan dan pakaian. Tanah Dunia Islam potensial untuk melakukan itu.

Dalam hal kebijakan untuk industeri pertanian, negara hanya mendorong sektor riil dalam industeri pertanian. Sedangakan sektor non riil (pasar modal), yang jelas jelas diharamkan, negara wajib mencegahnya. Keburukan sektor non riil adalah terjadinya perjudian, penipuan dengan spekulasi. Dengan menghidupkan sektor non riil, sebagian besar dana hanya dipergunakan untuk aktivitas spekulasi, sedangkan dana yang mengalir ke sektor riil hanya sebagian kecil. Kebijakan sektor riil ini akan berjalan baik apabila negara memperlakukan pelaku ekonomi secara adil yakni tidak memberi hak monopoli dan fasilitas khusus pada pihak tertentu. Negara hanya mengatur komoditas sektor industeri apa yang perlu dan yang tidak perlu di buat.

Selain itu negara harus memberikan fasilitas umum untuk menunjang sektor riil industeri pertanian, yakni pembuatan jalan pemberian modal, pasar dan lembaga-lembaga pendukung lainnya seperti lembaga penyuluhan pertanian, tersedianya bahan baku industri pertanian, yakni bahan-bahan pertanian yang memadai dan harga yang layak, jaminan harga yang wajar dan menguntungkan serta berjalannya mekanisme pasar secara transparan serta tidak ada distorsi yang disebabkan oleh adanya kebijakan yang memihak.

Untuk meningkatkan perdagangan hasil pertanian, negara harus membuat kebijakan agar mekanisme pasar berjalan transparan. Negara tidak boleh menetapkan harga minimal dan harga maksimal dalam perdagangan. Jika harga sedang naik, sedangkan barang tertentu benar benar dibutuhkan umat, negara boleh membelinya kemudian dijual kepada umat dengan harga yang terjangkau.
Suatu ketika orang orang berseru kepada rasulullah saw;
”Wahai Rasulullah saw harga harga naik, tentukanlah harga untuk kami.”
Rasulullah lalu menjawab;
”Allah-lah yang sesungguhnya penentu harga, penahan, pembentang dan pemberi rizki. Aku berharap agar bertemu Allah tidak ada seorangpun yang meminta kepadaku tentang adanya kezaliman dalam urusan darah dan harta.” [HR Ashabus Sunan]

Pemerintah harus mencegah adanya penipuan baik yang dilakukan oleh pedagang mupun oleh pembeli. Penipuan yang dilakukan oleh pedagang adalah dengan cara menyembunyikan cacat barang dagangan. Seangkan penipuan yang dilakukan oleh pembeli adalah dengan manipulasi alat pembayarannya. Rasululah saw bersabda;
”Tidak halal bagi seseorang yang menjual seseuatu, melainkan hendaklah ia menerangkan (cacat) yang ada pada barang tersebut.” [HR Ahmad]

Pemerintah harus mencegah upaya penimbunan produk produk pertanian. Penimbunan ini dilakukan dengan cara menahan / menyimpan produk produk pertanian dalam jumlah besar untuk menunggu harga naik baru kemudian menjualnya. Praktik ini diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad saw bersabda;
”Tidak menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa.” [HR Muslim]
Pemerintah harus mengusahakan agar kondisi penjualan hasil pertanian dan industeri pertanian berjalan transparan. Pemerintah harus memberikan hukuman bagi pihak pihak yang berupaya melakukan penipuan harga terhadap para petani dan penghasil produk industeri pertanian. Dalam ajaran Islam, kita dilarang untuk menghadang rombongan dagang yang ingin menuju ke pasar untuk kemudian membeli dari mereka dengan harga murah yang kemudian dijual kepasar sesuai dengan harga pasar. Ini adalah suatu bentuk penipuan harga. Nabi Muhammad saw bersabda;
”Janganlah kalian hadang kafilah kafilah (orang orang yang berkendaraan) dan janganlah orang yang hadir (orang dikota) menjualkan barang milik orang desa.” [HR Bukhari dan Muslim]


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: